Minggu, 27 Januari 2013

Manfaat Air Pegunungan bagi Kesehatan

Persediaan Air di Indonesia

Air sangat penting bagi kehidupan. Kita membutuhkan air untuk minum, mencuci tangan, memasak makanan, menyiram tanaman, dan masih banyak lagi. Sayangnya, kebutuhan air yang begitu penting kini seringkali tidak tercukupi. Di Indonesia, terutama Jakarta, jumlah penduduk setiap tahunnya terus bertambah sedangkan jumlah pasokan air bersih sangat terbatas. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya krisis air bersih, terutama di kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Beberapa bulan lalu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data bahwa pada tahun 2020, Indonesia akan mengalami krisis air akibat kerusakan lingkungan dan pertambahan penduduk yang semakin pesat. Bahkan, karena terlalu banyaknya penduduk di kota Jakarta, PAM Jaya telah berencana menggunakan air sungai Jakarta untuk memenuhi kebutuhan air minum warga Jakarta. Empat sungai yang akan dipakai sebagai sumber air antara lain Banjir Kanal Barat, Kali Krukut, Jembatan Besi, dan Cengkareng Drain. Direktur Utama PAM Jaya, Mauritz Napitupulu, pada akhir tahun 2011, menyatakan penggunaan air sungai tersebut terpaksa dilakukan untuk menutupi kebutuhan harian warga Jakarta sebesar 26 meter kubik per detik pada tahun 2015. PAM Jaya berencana menggunakan teknologi ultrafiltrasi untuk menyuling air sungai tersebut.

Walaupun PAM Jaya menjamin kualitas air hasil sulingan, tetapi apakah kita bersedia menjadikannya sebagai sumber air minum ketika kita membayangkan banyaknya sampah dan limbah lainnya di sungai tersebut. Belum lagi, mesin tersebut masih dioperasikan oleh manusia sehingga memungkinkan terjadinya kelalaian pada proses penyulingan. Akibatnya, air yang kita minum mungkin saja mengandung logam berat dan zat-zat beracun, seperti deterjen. Jika kita tidak menginginkan terjadinya hal di atas, maka kita perlu mencegah terjadinya krisis air minum dimulai dari sekarang. Upaya penting yang dapat kita lakukan adalah menjaga sumber utama air minum yang memang sudah terbukti aman bagi tubuh sampai saat ini, yaitu mata air pegunungan.

Mata Air Pegunungan                                        

Manusia membutuhkan air bersih dari tanah untuk dikonsumsi. Akan tetapi, tidak semua sumber air tanah layak untuk dikonsumsi. Sampai saat ini, sumber air tanah terbaik untuk konsumsi adalah mata air yang terdapat di pegunungan vulkanik. Hal ini dikarenakan mata air pegunungan vulkanik relatif terbebas dari pencemaran, mengandung berbagai mineral alami yang aman bagi tubuh, serta memenuhi ketiga syarat karakteristik sumber air tanah yang baik.

Untuk menentukan sebuah sumber air tanah layak untuk dikonsumsi atau tidak, kita perlu melihatnya dari tiga sisi, yaitu kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Dari sisi kualitas, sumber air tanah harus baik secara fisik, kimiawi, dan biologis. Secara fisik, air tersebut tidak boleh berbau, berasa, berwarna, dan keruh. Secara kimiawi, air tersebut tidak boleh mengandung zat beracun dan logam berat, seperti merkuri, timbal, seng, dan perak. Sedangkan secara biologis, air tersebut tidak boleh mengandung mikroba, terutama bakteri Entamoeba coli. Sumber air tanah berasal dari lapisan air tanah dalam sehingga tidak memiliki hubungan dengan air permukaan tanah. Selain itu, lapisan air tanah dalam juga tidak terpengaruh oleh musim.

Dari sisi kuantitas, mata air pegunungan vulkanik juga memiliki cadangan air yang besar dan biasanya muncul sebagai mata air artesis. Mata air artesis adalah mata air yang terbentuk secara alami akibat tekanan hidrolik air tanah. Lapisan air yang dalam posisi tertekan menyebabkan air artesis berusaha untuk menembus lapisan rapat air dan keluar ke permukaan bumi sebagai mata air.

Dari sisi kontinuitas, curah hujan yang normal dan lingkungan yang kaya akan pepohonan di daerah pegunungan menyebabkan sumber air di daerah pegunungan dapat terus terjaga ketersediannya. Air hujan yang tertampung di permukaan tanah akan terinfiltrasi ke dalam sistem lapisan batuan vulkanik akibat gaya gravitasi.   

Kerusakan Sumber Mata Air Pegunungan

Indonesia berada pada daerah pertemuan tiga lempeng tektonik yang aktif, yaitu lempeng Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia. Tumbukkan ketiga lempeng tersebut menyebabkan terbentuknya rangkaian pegunungan vulkanik di Indonesia. Rangkaian sekitar 400 gunung vulkanik menjadikan Indonesia bagian dari Cincin Api Pasifik. Banyaknya gunung vulkanik tersebut membuat tanah Indonesia menjadi subur dan kaya akan mineral berharga.

Dengan kayanya potensi sumber air minum, maka seharusnya masyarakat Indonesia dapat mengonsumsi air minum dengan tenang tanpa perlu takut terjadinya krisis. Akan tetapi, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Hal ini disebabkan hutan di gunung-gunung vulkanik seringkali dirusak oleh manusia secara liar demi kepentingan pribadinya (misalnya membuka area perkebunan yang baru, membangun daerah pemukiman, dan memproduksi kayu secara berlebihan). Padahal, hutan tersebut sangat penting untuk menjaga ketersediaan air tanah. Oleh karena itu, mulai saat ini, kita harus berani mengingatkan orang-orang di sekitar kita bahkan pemerintah untuk mulai menggalakan upaya pelestarian hutan, sehingga krisis air minum yang diperkirakan akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan dapat terhindari.

Pentingnya Air Minum bagi Tubuh

Krisis air minum perlu dihindari mengingat berbagai peran pentingnya dalam tubuh. Air menyusun sekitar 60% tubuh manusia, 90% bagian paru-paru, 75% otot, 10% lemak tubuh, 22% tulang, dan 83% dari total volume darah. Berdasarkan studi, diperkirakan manusia hanya mampu bertahan beberapa hari tanpa mengonsumsi air. Berbagai penelitian berusaha menunjukkan keuntungan konsumsi air bagi tubuh manusia.

Peningkatan konsumsi air terbukti dapat meningkatkan fungsi ginjal dan pengeluaran zat-zat racun dari dalam tubuh. Ginjal berperan dalam pengeluaran racun dari tubuh melalui serangkaian mekanisme, meliputi filtrasi glomerular, sekresi tubular, dan serangkaian jalur metabolik lainnya. Peningkatan konsumsi air akan sebanding dengan pengeluaran natrium dari dalam tubuh. Pengeluaran natrium penting untuk menghindari terjadinya penyimpanan natrium berlebihan dalam tubuh sehingga menurunkan risiko hipertensi.

Peningkatan konsumsi air juga terbukti dapat menurunkan risiko obesitas. Konsumsi air sebelum makan terbukti akan membuat kita menjadi lebih cepat merasa kenyang dan menurunkan jumlah kalori yang diserap oleh tubuh. Inilah yang menyebabkan konsumsi air minum sangat disarankan bagi orang-orang yang sedang menjalani diet ataupun program penurun berat badan tertentu.

Secara kosmetik, konsumsi air juga membuat kulit semakin terlihat segar. Konsumsi air akan meningkatkan elastisitas kulit sehingga kulit tidak mudah keriput. Penelitian lain menunjukkan bahwa konsumsi 500 ml air akan meningkatkan aliran darah kapiler di lapisan kulit.

Konsumsi air juga sangat penting untuk memelihara fungsi otak kita. Di dalam otak, air akan mengisi ruang sempit antar sel-sel saraf (ruang ekstraseluler). Air sangat penting guna menjaga kestabilan ion-ion dalam ruang ekstraseluler. Ion-ion tersebutlah yang kemudian akan digunakan untuk merambatkan rangsang sepanjang sel saraf. Rangsangan yang dirambatkan dapat berasal dari luar ataupun dalam tubuh. Ketika otak kita kekurangan air, maka kerja otak pun akan terhambat dan kita menjadi sulit untuk berkonsentrasi.

Sumber:

http://www.nyu.edu/pages/mathmol/textbook/whatiswater.html

http://news.detik.com/read/2012/09/02/002401/2005317/10/indonesia-terancam-krisis-air-mega-ajak-masyarakat-lebih-peduli-lingkungan

http://news.detik.com/read/2011/09/07/174025/1717694/10/penuhi-kebutuhan-air-minum-pam-jaya-gunakan-air-sungai-jakarta?nd771104bcj

http://health.detik.com/read/2010/12/08/180925/1511915/763/sumber-air-minum-terbaik-ada-di-pegunungan-vulkanik?l771108bcj

Fadillah T. Mitigasi bencana gempa bumi di sekitar Sesar Lembang. Bulletin Vulkanologi dan Bencana Geologi. Desember 2011; 6(3): 1-5

http://ga.water.usgs.gov/edu/propertyyou.html

Negoianu D, Goldfarb S. Just add water. J Am Soc Nephrol. 2008; 19: 1041-1048

Moghaddam MA, Ottersen OP. The molecular basis of water transport in the brain. Nature Reviews Neuroscience. 2003 December; 4: 991-1001

1 komentar: